Pengakuan Pariyem

image

Tadi ketemu buku ini di Gramedia Amplaz, agak kaget juga kok dicetak ulang, berarti payu.

Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, saat masih SMP dan masih tinggal di Sanden. Hiburan saat itu selain thethek di nggejlig pitu adalah membaca buku. Maklum belum ada internet, jadi ya mana ada path, facebook apalagi twitter. Papa itu suka membeli buku, sekarang sih sudah jarang. Eh beli apa dikasih kalau lagi mc ya? Entahlah yang jelas suka ada buku di rumah. Salah satunya ya Pengakuan Pariyem itu. Seingat saya bukunya tidak selebar yg ada si foto, kurang tahu kenapa sekarang dibuat seperti itu. Awalnya sih iseng-iseng baca, lama kelamaan jadi tertarik pingin tahu kisah hidup Pariyem si rewang.

Lalu, apakah saya membeli lagi Pengakuan Pariyem? Nggak sih. Cuman beli separo tetralogi pulau buru, terus si ebel beli Dilan 1 dan 2 karangan Pidi Baiq dan Vasant beli buku kumpulan soal UAN SMP dan Madilog.

Jadi sudah baca buku apa bulan ini?

Advertisements
Pengakuan Pariyem

Bebek Kang Dono

image

Dapat info dari Kadek kalau ada warung bebek goreng yang enak di dekat rumah. Ya sebenarnya nggak dekat-dekat amat. Tapi lebih dekat kalau dibandingkan bebek bacem utara Stasiun Brambanan itu.

Pertamanya sih tidak begitu jelas tentang lokasinya, petunjuk dari Kadek cuma di jalan parangtritis. Beberapa kali lewat jalan parangtritis dari perempatan ringroad sampai pertigaan tembi kok tidak ketemu. Sampai kemarin tanya lagi ke Kadek.
“Pak Vet mau makan di tempat apa dibawa pulang? Tanya Kadek
Jawab saya sih pengen makan di tempat. Kadek menjelaskan ada dua warung Bebek Kang Dono. Di pertigaan tembi barar jalan dan di dalam kampung. Kata Kadek, kalau mau makan di tempat mending ke warung yang di dalam kampung.
” Kalau yang pertigaan tembi itu kurang representatif untuk makan di tempat” Katanya.
Dikasih ancer ancer lokasi yang di dalam kampung. “Jadi kalau dari pertigaan lampu merah tembi belok ke barat, nanti ada perempatan, belok ke selatan, nanti warungnya ada di kanan jalan”

image

Bebek Kang Dono ini enak, tidak alot, dagingnya mudah dilepas dari tulang. Per porsi bebek dihargai Rp. 20.000 belum termasuk nasi. Ada dua sambel korek yang menyertai bebeknya, sambel hijau dan merah.
Memang benar kata Kadek, lokasi yang di dalam kampung ini luas, cocok untuk makan di tempat.

image

Bebek Kang Dono

Sudah Cukup Jelas

Jadi sabtu kemarin ada acara gathering kantor, kebagian jadi koordinator perlengkapan. Biasanya kalau perlengkapan itu angkut angkut barang.
Selain itu kebagian nyari hiburan, pilihan pertama adalah om hasoe dengam hasoe angelnya. Pas telpon pertama, masih kosong jadwalnya. Karena gathering di kumpeni itu harus ada persetujuan direksi dan tetek bengek lainnya. Pada tenggat waktu harus ngasih kepastian ke om hasoe belum bisa ngasih jawaban. Keesokan harinya setelah sudah dapat kepastian, eh ternyata om hasoe udah ada jadwal manggung. Kemudian om hasoe berbaik hati ngasih referensi salah satu penyanyi, ratih namanya.

Gugling dan ternyata masuk kriteria, sampai datang ke rumahnya untuk memastikan. Takut pabos kecewa. Kemudian deal.

Mbak ratih menyarankan jangan pakai sound system hotel, sound bawaan hotel biasanya jelek, dan ternyata memang iya. Kemudian dia sanggup mencarikan sound biar acaranya jadi petjah (istilah anak jaman sekarang).

Mendekati hari h, pihak hotel memberi tahu bahwa sebaiknya kapasitas sound jangan melebihi 3000 watt, takut listriknya nggak kuat. Dari situ mulai degdegan, beberapa kali memastikan ke mbak ratih agar soundnya nggak bikin listrik njeglek.

Saat mau memberi uang muka tanda jadi, ada usulan kalau sound system sekalian disewa dari awal acara, jadi bukan pas hiburan electone saja. Bilang ke mbak ratih, deal tentu saja dengan tambahan biaya, wajarlah.

H-2 ada perubahan acara, jadwal dimajukan, maju 2 jam. Sempat tanya ke bagian acara kalau sound systemnya mau sekalian maju atau nggak, nggak usah katanya. Lalu saya mumet mikir kapan waktu loading sound dan check sound. Liat jadwal acara, satu satunya yg memungkinkan adalah saat ishoma jam setengah enam. Padahal sound sesuai kesepakatan akan datang jam 3.

Hari H, sound datang jam 3 kurang seperempat, ngobrol situasi terkini, mempersilahkan makan siang dulu dan tanya rokoknya apa. Yang penting bukan kretek katanya. Okei super fine clove cigarretes kalau gitu. Jam 16.00 ada coffee break, sound bisa dipasang tapi belum check sound. Jam 17.46 jadwal ishoma, check sound dan ternyata okei dan lhar.

Mbak ratih sepertinya agak jengkel saya bbm agar jangan sampai lupa. Jam 20.00 dia belum datang, janjinya sih jam segitu bakal datang. Bbm nggak masuk, telpon nggak diangkat dan sms gak dibales. Keringat dingin.

“Penyanyi sudah datang” suara HT dari teman yg saya minta jadi LO penyanyi.

Jadi apakah petjah?

image

Sudah Cukup Jelas

Selamat Hari Valentine

Waktu masih bekerja di perusahaan ritel terkemuka, setiap hari berangkat nglaju. Meskipun kantornya ada di Banaran Delanggu, kira-kira 80km kalau dari rumah. Jika naik motor dibutuhkan waktu paling lama sejam, kalau ngebut bisa 45 menit.

Setelah hampir setahunan naik motor, yang ternyata capek sekali selain itu juga mempertimbangkan faktor keselamatan dan kesehatan. Akhirnya berganti moda transport dengan bis. Ngadang bis di perempatan ringroad ketandan , dari rumah naik sepeda kemudian sepedanya dititipkan di toko Banguntapan depan museum wayang kekayon.

Rutinitas bersepeda lalu dilanjutkan dengan naik bis kantor berlangsung sampai saya mengundurkan diri dari perusahaan ritel terkemuka tersebut. Anak-anak toko sampai hapal dengan rutinitas saya. Pagi sebelum setengah tujuh sudah sampai toko, nggembok sepeda ke tiang dilanjutkan dengan jalan ke perempatan Ketandan. Malam jam setengah tujuh sudah sampai di toko, ambil sepeda lalu ngonthel pulang.

Di toko ada periode promo, tanggal 1-15 dan tanggal 16-akhir bulan. Saya jarang berbelanja di toko, meskipun menjadi karyawan di ritel tersebut. Mahal :). Tapi jika ada promo, harga-harga produk menjadi murah, kacek. Baru deh beli di toko. Tetapi terkadang barang yg promo sudah habis, sudah diborong oleh anak tokonya sendiri.

Waktu Valentine 2012, seperti biasa selalu ada promo coklat. Waktu itu saya pengen banget beli coklat yang promo untuk istri. Jarang-jarang ngasih coklat waktu valentine. Beberapa hari sebelum valentine sudah mengincar coklat promo. Dalam hati “Nanti pasti Dian seneng aku beliin coklat”. Waktu hari Valentine, sepulang dari kantor, turun bis di perempatan Ketandan lalu disambung jalan ke toko Banguntapan. Sampai toko tanya ke kasir nya.
“Mbak, coklat sing promo ada? “Tanya saya, karena di rak display kok sudah nggak ada
” Waduh Pak sampun telas e, was diborong pramu-ne” Kata Mbak Kasir.

Setiap valentine saya selalu teringat kejadian itu, setahun setelah itu beneran mbeliin Dian coklat. Reaksinya terharu, setelah bertahun-tahun nggak pernah dibeliin suaminya cokelat akhirnya waktu Valentine diberi coklat.
Sederhana tapi berkesan.

Selamat Hari Valentine

Veta

Waktu saya lahir dulu, masih jarang ada anak diberi nama Veta. Adanya Peta Toppano, dan kalau anda tahu Peta Toppano berarti anda tua banget.

Orangtua saya memberikan nama Veta tidak asal dan sembarang, Waktu saya lahir Mama sedang kuliah di Kedokteran Hewan, nah dari situlah Veta berasal, “Vet” ditambahi “a” biar manis.

Menginjak SD, belum ada teman saya yang dinamai Veta, yang paling mendekati adalah Vita. Waktu SMP ada adik kelas yang namanya mirip Vieta, tapi dipanggil Vita juga. SMA sampai kuliah tidak ada yang namanya mirip-mirip lagi

Hal yang sering saya alami dengan nama Veta adalah, dipanggil mbak (waktu dulu masih sekolah). Jadi guru-guru waktu mengabsen pasti ada saja yang menambahi mbak di depan Veta. Meskipun sudah ada kata Mandra setelah Veta, tetap saja ada yang keliru menganggap saya perempuan. Selain dipanggil mbak, setelah saya bekerja tentu saja panggilannya berubah jadi Bu. Gambarannya kayak gini

*telfon orang*

Yang ditelpon :” Besok waktu tes bertemu dengan siapa mas?”

Saya               :” Bilang saja ke resepsionis, mau ketemu dengan Veta”

Yang ditelpon :” Baik, berarti bertemu dengan Bu Veta ya. Maaf, dengan siapa saya bicara”

Saya               :” Saya Veta mas”

lalu situasi menjadi aneh

Dan itu sering, ditambah kalimat pembuka di email ” Selamat Siang Bu Veta”.

Dan entah kenapa hari ini saya iseng searching nama saya sendiri di twitter, keputusan yang mengundang jawaban agak membuat tertawa dan mengelus dada.

Veta

Lega

Pasti sudah pernah merasa lega kan?
Perasaan lega biasanya didapatkan setelah mengeluarkan sesuatu. Habis mengeluarkan emosi marah, lega setelah kamu klimaks setelah bercinta atau masturbasi.
Seperti saya yang terburu-buru pulang dari warung soto karena perut mules, demi lega.

Lega

Cerita Makan Siang

dx

 

 

Cerita dimulai dari hujan yang mulai minggu ini sudah rajin datang ke Jogja. Beberapa akibatnya adalah kesusahan mencari makan di saat istirahat makan siang. Ada OB sih,tapi kan OB biasanya beli ke warung sesuai mayoritas pesanan, kasian juga kalau hujan hujan nyuruh OB. Nah, hari kemarin hujan turun pas sebelum makan siang. Sebetulnya waktu makan siang tinggal gerimis saja. Gerimis tanggung, nekat keluar pakai motor pasti basah. Nah kebetetulan ada teman kantor, sebut saja Sigit bawa mobil (mobilnya yang ada di atas). Mobil jadul Toyota Corolla DX, Kita bertiga (saya, Arnold dan Sigit) bermobil ria mencari makan. Yang dituju adalah Soto Semarang di selatan PLN Gedongkuning, Cerita tentang Soto Semarang ini mungkin akan diceritakan di postingan lainnya. Yang jelas kita suka makan di sana karena murah dan banyak. Kuantitas itu penting disaat makan siang

Singkat cerita, makan pun usai, bayar dan cabut ke kantor. Arnold di posisi kemudi, kata Sigit mampir beli bensin dulu, jadilah kita mampir di pom bensin deket situ. Nah, ternyata pom bensinnya lagi ada pengisian bensin pakai truk tangki gitu. Jadinya pasti lama kalau nunggu prosesnya selesai. Akhirnya diputuskan balik ke kantor karena jam istirahat sudah mau selesai dan kita takut dipotong gaji :). Perjalanan pulang lancar…….. sampai kita tiba di tanjakan SGM dari arah timur. Tiba-tiba mobil tersendat jalannya *ndet ndet gitu*.

“bensine enthek” kata Sigit

“piye git piye git” Arnold panik. Panik karena posisi mobilnya pas di tanjakan.

Untungnya masih ada sisa bensin sedikit, jadinya mobil bisa dipinggirkan. BTW, mobilnya ini handbrakenya mati hehe. Oke, kita minggir, terus Sigit bilang ke Arnold ” Nod, dipinggirke nod, diundurke wae”

Kemudian mobil dipinggirkan, Sigit buka bagasi belakang terus ambil jeriken, dan beli bensin eceran. Karena indikator bensin mati, jadinya SIgit sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Sambil nunggu Sigit beli bensin, saya moto dan ngedit, jadinya ya gambar di atas itu.

Intinya, daripada kehabisan bensin di tanjakan, mending nunggu lama antrian di pom bensin.

 

 

Cerita Makan Siang